Satu Jam Saja

Wednesday, February 06, 2008

Rasanya baru kemarin hujan demikian deras mengguyur tanpa ampun. Sampai-sampai saya harus mengenakan kacamata andalan yang bisa membantu memperjelas jarak pandang di antara wiper yang bergerak lincah dan titik-titik air yang semakin besar saja ukurannya. Dan harus bersabar karena hujan hanya mengijinkan saya dan si hitam untuk bergerak pelan. Bahkan tadi pagi pun masih sempat terdengar suara gemericik air yang menimpa genteng rumah.

Lalu sekarang...?

Saya malahan harus bersabar dan menahan diri setengah mati untuk tidak merutuki tempat parkir yang sudah dipadati oleh jajaran mobil. Di siang hari yang diwarnai sengatan matahari. Ditambah perut yang mulai tidak mau kompromi lantaran belum juga terisi sejak pagi tadi.

Kalau sudah begini, rasanya ingin segera membawa si hitam pulang saja. Tidak hanya sekedar bisa menikmati makan siang dengan tenang tanpa harus repot mengantri, tapi setelahnya bisa langsung melemparkan badan ke atas tempat tidur.

Seandainya.

Haduuhhh... ini juga harus dibawa semua ya?! Sudah menyandang tas, masih ada lagi notebook dan file folder yang tebal pula. Dan buku ini... pastinya dibawa juga. Sudah lebih dari seminggu saya terlambat mengembalikannya ke perpustakaan. Entah berapa denda yang harus dibayar nanti.

Benar-benar padanan yang sempurna.

Terik matahari, angin yang menghembuskan udara panas, barang-barang yang rasanya lebih baik dibawa dengan menggunakan trolley dan bukan kedua tangan, lupa mengikat rambut panjang saya yang mulai tersibak ke sana-kemari, lalu... ada apa pula ini pria ber-helm menghampiri saya?

Pakai melihat-lihat ke bagian belakang si hitam, pula! Mau apa sih dia?

Seperti belum cukup saja hal-hal yang membuat saya kesal siang ini.

“Siang, Mbak...”

“Ya...?!”

“Maaf, Mbak... Mau ijin masang tutup ban ini di mobil Mbak,” kata pria berhelm itu sambil menunjukkan tutup ban yang dimaksudnya.

Terbuat dari sejenis kain terpal, bergambar botol minuman teh instan rasa buah keluaran terbaru. Sedang berpromosi rupanya.

“Ooohh... ya udah, pasang aja, Mas.”

Pria berhelm itu pun memanggil temannya, sesama pria berhelm, yang tengah memasang tutup ban yang sama di mobil lain yang letaknya tidak jauh dari tempat si hitam terparkir. Pria yang dipanggil pun muncul sambil tergopoh-gopoh membawa plastik berisikan tumpukan tutup ban yang masih terlipat dengan rapi.

“Udah bilang belum?” tanya si teman setengah berbisik, tapi tetap saja terdengar oleh saya.

“Udah kok...” sahutnya.

Saya pun menutup pintu, mengamati kedua pria yang tengah memasang tutup ban di bagian belakang si hitam dengan susah payah, masih dengan membopong semua barang bawaan saya. Ban cadangan si hitam yang sudah tertutup dengan tempatnya yang terbuat dari fiber, membuat mereka kesulitan untuk memasang tutup ban berkain terpal itu.

“Sempit tuh, Mas.”

“Nggak apa-apa, Mbak. Yang penting udah kepasang, trus saya foto deh,” serunya sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya dan mengambil gambar bagian belakang si hitam yang sudah terpasang tutup ban bergambar yang diberikannya, “Nanti kalo Mbak memang gak suka, dilepas lagi juga nggak apa-apa kok. Yang penting ‘kan udah kefoto tadi.”

“Harus masang berapa banyak, Mas?”

Pria itu menolehkan kepalanya, menatap saya. Ia tersenyum.

“Seribu, Mbak.”

“Hah? Seribu? Trus udah dapet berapa?”

“Hhh... baru dua-ratus nih, Mbak. Makanya masih harus muter lagi. Sampe malem kali ntar.”

Kluk. Semua pintu si hitam pun terkunci.

“Ya udah, selamat berburu deh, Mas. Saya duluan ya...”

Ia tersenyum lagi, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Membuatnya tampak seperti pajangan mobil yang kepalanya besar dan bisa bergoyang-goyang. Ia pun berjalan menghampiri temannya yang sudah menunggu di atas sepeda motor.

Yah, lumayan lah...

Ketabahan hati untuk tidak mengumpat dan memaki teriknya matahari ternyata membuahkan hasil. Saya dapat tutup ban baru! Gratis pula! Kalau pun tidak bisa mengenakannya pada si hitam, saya toh bisa memberikannya kepada Mbakyu.

Okay, back to reality!

Bakalan makan siang sendirian kalau begini ceritanya. Rekan praktek saya sudah tiba sedari tadi dan sekarang tengah menemui seorang klien, sementara teman-teman lain belum pasti akan mampir seusainya mereka berpraktek di tempat tugas masing-masing.

Eeehh... ternyata ada teman saya yang satu itu! Si perempuan dengan tampilan kalem. Kalau membahas kelakuan, ya jelas berbeda.

Sendirian pula di tengah kantin.

Jadilah saya menikmati makan siang dengannya. Membincangkan huru-hara yang ditemui selama masa praktek di institusi masing-masing. Saling menertawakan pengalaman dan kebodohan diri sendiri, menjadikan apapun yang mungkin sebagai bahan lelucon kami.

“Ya Vir...?!” sahutnya menerima panggilan di handphone yang tiba-tiba berdering, “He-eh, gue lagi sama Agatha nih...”

Wah... kenapa nama saya disebut-sebut?

“Iya ... He-eh ...” lanjutnya, masih menyimak apa yang dikatakan orang di seberang sana.

Aduh... ada apa sih ini? Kok sepertinya serius?

“Tutup ban...?”

Hah? Tutup ban?

Saya pun segera meletakkan sendok yang telah terisi nasi dan ayam kembali ke atas piring. Makin tak sabar menunggu si teman ini menyudahi percakapan di handphone dan memberitahukan kepada saya apa yang sedang terjadi sebenarnya.

“Itu Virly,” katanya menyebutkan nama kakak dari salah seorang teman kami, “Mobilnya dia ‘kan parkir persis di sebelah mobil lo...”

“Trus...?”

“Katanya, tutup ban lo diambil sama supir Innova item, yang parkir di sebelah kiri mobil lo.”

Astagaaa... Baru juga tadi bersyukur karena mendapatkan hikmah di balik penderitaan akibat tersengat terik matahari dan didera angin yang berhembus panas, eehh kok tiba-tiba dalam waktu kurang dari satu jam semuanya sudah berbalik.

“Gimana...?” tanya teman saya, rupanya masih menunggu jawaban atas pertanyaan yang memang tidak diajukan sebelumnya. Sambil bersiap hendak menghubungi si penelpon tadi.

Saya hanya tersenyum, menyeruput es teh manis dan melahap kembali nasi dan ayam yang sempat tertunda tadi.

“Biarin aja, lah...”

Si teman mengerutkan dahinya, tampak bingung mendengar jawaban saya. Saya pun menjelaskan kejadian yang dialami sebelum tiba di kantin tadi, perjumpaan dengan si Mas berhelm, beserta acara mengabadikan bagian belakang si hitam. Namun, dahinya masih saja berkerut setelah saya menyelesaikan kalimat terakhir dari cerita itu.

Gantian saya yang bingung.

“Trus...?” tanyanya.

“Terus gimana? Ya udah, ceritanya sampe di situ aja. Nggak ada terusannya.”

“Yee... maksud gue, trus lo biarin aja gitu dia ngambil tutup bannya?”

“Trus mau diapain? Coba... kalo udah kaya’ gini, mau gue apain supir Innova itu? Dilabrak gitu? Diminta lagi tutup bannya?”

Teman saya masih menyimak, rupanya.

“Ya udahlah, mungkin emang dia kepengen kali. Tutup ban itu juga nggak muat kok di mobil gue, tadinya emang udah mau gue kasih kakak gue begitu sampe rumah. Tapi kalo ternyata udah bisa gue kasih ke orang duluan sebelum gue pulang, yaa... meringankan tugas gue, bukankah?!”

“Anak aneh!” sahutnya.

“Lagian, sebenernya kalo dia minta sama si Mas tadi juga bakalan dikasih kok. Wong dia masih harus masang lapan-ratus lagi, ya pasti seneng lah kalo dikurangin satu.”

Iya, saya memang tidak habis pikir.

Mobil Innova itu sudah terparkir di tempatnya sebelum saya dan si hitam datang. Kaca di sebelah kanan depan terbuka sebagian, membuat saya bisa melihat bahwa seorang pria sedang leyeh-leyeh di dalamnya. Mestinya sih dia sudah tahu bagaimana ceritanya sampai tutup ban itu bisa terpasang pada si hitam. Ya karena diberikan oleh si Mas berhelm tadi.

Lalu kalau memang dia menginginkan tutup ban yang sama, ‘kan tinggal menghampiri si Mas saja. Semudah itu kok. Kenapa juga harus melucuti milik si hitam?

Aahh... tapi itu ‘kan saya.

Mana saya tahu apa yang dipikirkan oleh supir Innova itu. Kalau ia sependapat dengan saya, melakukan sebagaimana yang saya pikirkan, nanti malah saya yang melucuti tutup ban milik mobil lain.

Eh, lho...?! Kebalik ya?!

website page counter

ADA 15 KOMENTAR:

» Anonymous anima:

hmm.. aneh kelakuannya yah. tapi siapa tahu niatnya baik mbak, we never know :D

February 06, 2008 2:24 PM  
» Blogger Desperate Houseboy:

Huhuhuhu, salah satu misteri dalam hidup yang belum dapat terjawab. (Seperti juga hubungan antara hujan dan celana dalam. Apa sih? T_T)

February 06, 2008 6:14 PM  
» Anonymous tito:

di kompleks kantor saya juga tuh, ada orang masang-masang sarung ban. Trus di poto. Well sebenarnya kehilangan barang gratis nothing to lose kan ya.

February 06, 2008 10:02 PM  
» Anonymous Hedi:

Jaman dulu masang tutup ban gratis lho, soalnya mereka sendiri yg mau kok malah kita disuruh bayar hehehe

February 06, 2008 11:02 PM  
» Anonymous rama:

Tutup ban doang ya? yup gak usah diributin, toh dapetnya gratis juga.

eh btw, mending tuh ban serep dimasukin ke dlm mobil aja non. jadi kan gak beratin pintu bagasi. n gak kumel n karatan bagian belakang yang gak keliatannya.
eh, tapi kalo kayak gitu jadi ngilangin kesempatan dapet tutup ban gratis lagi ya? hihihi....

nice plot!

February 08, 2008 11:37 AM  
» Anonymous sluman slumun slamet:

ahhhh moga ketemu sama masnya itu, biar ban saya dikasih tutup pula.
ban MIO maksudnya!

February 08, 2008 5:08 PM  
» Anonymous pututik:

kirain mbakdos mau bantuin masnya dengan promo gitu ketemen2nya utk pasang tutup ban :D

February 08, 2008 7:21 PM  
» Blogger mbakDos:

anima:
absolutely right! he might not never know mine, either ;-)

droo:
iya sih, misteri memang. tapi kalo si celana dalam itu, yaa itu masalah pengalaman kok ;D

pakDok:
he eh... masih untung bukan ban-nya *dasar orang jawa, tetep aja jawabannya untung :P

hedi:
kalo ban yang gratis ada gak? ;D

rama:
masalahnya, di dalem udah gak ada space buat naro ban serep. masa kalo ban dimasukin ke dalem, saya yang kudu keluar?! ;D
anyway, nice to hear from you again...

mas slamet:
lho, ada tho tutup ban MIO?

pututik:
hehehe kasiyan masnya kalo nanti saya ikutan bagi2in tutup ban itu. masa ntar poto2 di hapenya dia isinya ada saya semua? ;D

February 09, 2008 8:36 PM  
» Anonymous kardjo:

Udah sempat kenalan sama mas yang masang ban belum??
Kasihan loh, soalnya dia berharap pengen kenal sama ibu Dosen.

February 10, 2008 8:08 PM  
» Anonymous jimmy:

duh kasian banget ya si mas musti masang 1000 ban.. dibayar berapa dia ya kerja keras begitu?

February 12, 2008 12:30 AM  
» Anonymous ebeSS:

tetep tuh mbak , yang paling menarik judulnya, dari pada tutup bannya . . satu jam saja, hmmm kek lagu ya . . . klo tak tawar 10 menit ja boleh mbak . . :P

February 12, 2008 9:31 AM  
» Blogger mbakDos:

kardjo:
waaahhh mbok ya bilang! mana saya tau kalo si mas pembagi tutup ban itu ternyata dirimu! *halah! ;D

jimmy:
kalo kerjanya sih kayanya gak keras ya... tapi kerja capek ;-)

ebess:
halah, tetep lho dikaitin sama lagu!

February 13, 2008 12:36 AM  
» Blogger Cewek Nongkrong:

http://i72.photobucket.com/albums/i186/shrivastava_agatha/mjphosis/Agatha78.jpg
mbak ...
kenapa yang bagian bawah ga keliatan ...

lumayan buat peng-laris

February 27, 2008 7:41 AM  
» Blogger mbakDos:

cewek nongkrong:
hehehe... gak usah diliyatin bagian bawahnya juga udah laris kok ;D

February 27, 2008 10:41 PM  
» Anonymous mahasiswa bodoh:

ih mba,setuju!
ngapain juga dibikin ribet bukan?

-newbie..salam kenal..-

June 07, 2008 12:15 PM  

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS