Anting Ajaib

Monday, October 30, 2006

Untuk yang kesekian kali, saya kehilangan tindikan hidung.

Di pagi hari saat saya sudah siap untuk meninggalkan rumah dan memulai aktivitas seperti biasa, saya masih harus dipusingkan dengan anting hidung yang tiba-tiba raib.

Saya tidak tahu ke mana ia terjatuh.

Seperti biasa, anting itu memang dilepaskan dari tempatnya (baca: cuping hidung sebelah kanan) sesaat sebelum saya mandi. Lalu diletakkanlah dirinya di atas meja rias dan saya meninggalkannya ke kamar mandi.

Selesai mandi dan mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa pergi, barulah saya duduk di depan meja rias. Memasang anting kembali ke tempatnya merupakan ritual yang terakhir kali akan saya lakukan di sana, saat berdandan.

Entah karena sisa sabun atau kotoran yang kemudian menyumbat lubang tindikan, atau saya yang memasangnya dengan sudut kemiringan yang kurang pas, anting tersebut terasa sulit sekali dimasukkan. Ujungnya sudah ditancapkan pada lubang yang benar, tapi kemudian terasa mengganjal dan membal kembali saat saya mencoba menekannya lebih dalam (*hush! Dilarang jorok!).

Lalu terpentallah dirinya entah ke mana.

Hhh... lagi?!

Yah... memang bukan sekali ini saya kehilangan anting hidung.

Mungkin sudah dua atau tiga kali saya kehilangan anting yang sama.

Dan hampir selalu dengan kejadian yang sama.

Saat sedang berusaha memasangnya kembali ke hidung, ujungnya sudah ditancapkan tapi lalu ia terpental. Atau saat diletakkan di meja rias, tanpa sengaja tersenggol oleh tangan saya dan kemudian terjatuh ke lantai.

Bisa kamu bayangkan ‘kan, mencari anting kecil berwarna perak di atas lantai?!

Saya harus meraba-raba dengan menggunakan telapak tangan, karena kalau hanya menelusuri dengan menggunakan mata pasti tidak akan berhasil ditemukan. Belum lagi menghadapi kemungkinan lain, bahwa mungkin saja ia tidak jatuh ke lantai, tapi terselip ke tempat yang terpencil, seperti sudut antara meja rias dengan dinding, yang jelas tidak mungkin saya masuki.

Dan yang lebih menyebalkan, kehilangan itu dialami saat saya sedang dalam keadaan terburu-buru. Yang kemudian membuat saya harus segera menuntaskan saja acara pencariannya, dan memasang anting hidung yang lain. Karena saya sudah harus berangkat meninggalkan rumah.

Dan hal semacam ini selalu terjadi (yah... selalu terjadi!) saat saya kehilangan barang-barang saya.

Saya memang ceroboh. Slordeg. Jadi kehilangan barang bukanlah hal yang asing buat saya.

Masih ingat dengan kalung ungu saya yang hilang dulu?

Atau celana panjang jeans andalan yang sudah robek-robek?! Atau tank-top coklat bergaris vertikal?! Atau pensil mekanik merah marun?! Atau CD Fourplay?!

Atau orang terdekat?!

Saya akan mengalami kepanikan yang sama.

Saat tiba-tiba saja merasa sahabat atau orang terdekat saya menghilang begitu saja. Mereka yang biasa saya ajak berbincang, yang biasa saya ajak berdiskusi, yang biasa mengadu gulat, biasa berlomba mencela, biasa menjadi korban penyakit flirtious akut saya, tiba-tiba raib bak ditelan bumi.

Dan segala cara akan dilakukan untuk kembali menemukannya.

Mengirimkan SMS yang tidak kunjung dibalas. Menelpon dan tidak pernah diangkat. Mengirim e-mail yang tidak juga membuahkan hasil. Mendatangi tempat yang biasa kami singgahi, tidak ada di sana. Mengunjungi kediaman yang bersangkutan, tapi tidak pernah ada di rumah. Menanyakan kepada teman-teman yang lain, namun tidak juga mendapat jawaban.

Sampai kehilangan akal ke mana lagi saya harus menelusuri.

Sampai kehabisan tenaga untuk ke sana-kemari dan terus mencari.

Sampai saya merasa putus asa... lalu kelelahan.

Di satu sisi, saya tentu masih ingin menelusuri setiap sudut yang memungkinkan untuk bisa menemukannya. Mungkin saja ada tempat yang terlewatkan, mungkin masih ada cara lain yang belum saya coba.

Tapi di sisi lain, saya tidak bisa terus-menerus berkeliling dan menyibukkan diri dengan mencari apa yang kemudian tidak kunjung ditemukan.

Saya tidak mungkin mengalpakan diri dari rapat dosen hanya karena tidak mengenakan anting hidung yang biasa dikenakan, ‘kan?!

Toh pencarian itu masih bisa dilanjutkan sekembalinya saya ke rumah.

Kalau belum ditemukan juga...?

Kamu pasti akan mengatakan bahwa mungkin anting hidung itu memang sudah waktunya hilang. Mungkin anting itu memang bukan untuk saya.

Mungkin sahabat-sahabat yang tiba-tiba menghilang ini memang seharusnya bukanlah orang terdekat saya. Mungkin mereka lebih pas menjadi sahabat bagi orang lain.

Hhh... kamu baru saja mengungkapkan jawaban yang paling saya benci.

Saya tahu, apa yang kamu ucapkan itu memang ada benarnya.

Mungkin saya yang memang tidak terlalu mempercayai benda bernama takdir, atau sudah digariskan, atau sudah dari sananya, atau apalah itu.

Kalau mereka ternyata adalah memang sahabatmu, mereka pasti akan kembali lagi. Kalau mereka memang ada buat kamu, mereka nggak akan ke mana-mana, kok.

Oh, yeah?!

Lagi-lagi jawaban yang benar-benar saya benci.

Saya membencinya. Karena jawabanmu itu memang membuktikan kebenaran apa yang telah kamu katakan.

Setiap kali kehilangan anting yang satu itu, saya memang selalu menemukannya kembali.

Di saat-saat yang tidak pernah diduga. Di kala saya justru merasa bahwa anting itu tidak akan ditemukan lagi. Di saat saya akhirnya menyadari sepenuhnya dan mengatakan bahwa anting itu memang hilang. Di saat saya kemudian memutuskan bahwa saya akan menggunakan anting yang lain.

Then suddenly it showed up!

Saat sedang menyapu lantai dan tiba-tiba saya melihat ada benda kecil berkilau, yang tampaknya tidak layak untuk disapu. Atau saat sedang membereskan buku-buku tebal yang bertumpuk di atas meja. Atau saat sedang membuka laci untuk mengambil kapas pembersih wajah.

Sahabat-sahabat saya ini datang lagi justru di saat saya merasa bahwa mereka tidak akan mungkin lagi saya temukan. Di saat saya - dengan amat terpaksa - harus merelakan takdir memutuskan mereka harus pergi dari kehidupan saya.

Tiba-tiba nama mereka muncul saat handphone saya berdering. Tiba-tiba nama mereka tercantum di inbox e-mail saya. Tiba-tiba ia menyapa saat saya sedang online. Tiba-tiba mereka terlihat di kantin kampus seusai saya mengajar.

Oke... saya memang sering mengalaminya.

Hari ini hilang, lalu esoknya muncul lagi. Hari ini saya sibuk mencarinya, lalu tak lama kemudian ia muncul dengan sendirinya.

But it never means that I was get used to it.

Karena saya tidak pernah berhenti bertanya, kalau toh mereka memang ditakdirkan untuk saya, mengapa harus diselingi oleh acara hilang-menghilang dulu?



PS.
I dedicated this to you.
Yeah, you... The one who's finally showed up!
Glad to have you again
;-)

website page counter

ADA 8 KOMENTAR:

» Anonymous rymnz:

hampir tertipu..
kirain masala anting
ternyata masih seputar HATI ya:p..
jadi yakin skarang dah tau letaknya dimana?

October 31, 2006 10:15 AM  
» Blogger andy owen:

hehehe kalo soal anting mungkin memang antingmu itu harus kamu pasang terus kali. hehehe

Kalau soal sahabat, well satu komenku thats life, teman memang datang dan pergi dalam hidup kita. So we'll find out who our real friends are.

November 01, 2006 11:37 AM  
» Anonymous mata:

makasih ya mbak. ngena banget nih

November 01, 2006 1:12 PM  
» Blogger iin:

hmm...
aku sih percayanya gini mbak:
seberapa pun sering mbak agatha ngobrol ama pujaan hatiku, kalo emang rejeki ku, pasti gak kemana2 hehe..
(jgn lupa titip salam yaa dr ku, kl ngobrol2 lagi.. SRIUS)

masih aja ternyata.. ujung2nya ttg hati.. emang packagingnya menipu nih blog2nya.. ;p

November 01, 2006 3:42 PM  
» Anonymous tito:

Saya juga punya sesuatu di hidung yang memang harus dibuang. Jorok yaa? Njijiki yaa?
Klo cewek gimana ya? Moga2 nongol di waktu aku lelah mencari

November 02, 2006 5:09 PM  
» Blogger Shrivastava:

memed:
lho, yang bilang bukan masalah anting siapa?! ;-)

owen:
kalok anting sayah dipasang terus, bisa berkarat di dalem nanti ;p
wah... senang skalih melihatmu di sini kangmas ;D

mata:
sama2, ta...

iin:
iya sih, rejeki emang gak ke mana2 in. tapi bener yakin jadi gak kepingin ikutan ngobrol juga?! ;D

tito:
kalo yang nongol adalah cewek yang punya banyak kotoran hidung pegimana?! ;D

November 02, 2006 8:25 PM  
» Blogger tyka82:

hummm...
antingmu itu jatuh di deket flash disc kaleee... *emangnya saya?*

hehehe.

saya ni trmasuk golongan kaum yg gemar datang dan pergi dari kehidupan teman dan sahabat loh. akhirnya di usia ke 24 ini saya sadar kalo pergi tanpa pamit itu sungguh tidak sopan...

November 04, 2006 9:27 AM  
» Blogger Shrivastava:

tyka:
memang tulisan ini dibuat untuk mbakGur kok *halah sok ngepas2in ;D

November 05, 2006 9:15 AM  

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS