Melepuh akibat Kembang Api

Monday, September 25, 2006

Saya jadi ingin bermain kembang api.

Gara-gara melihat gerombolan anak-anak kecil di ujung gang masuk rumah saya tadi.

Iya...

Mereka sedang berdiri melingkar sambil memegang batang kembang api yang sudah disulut. Mereka menggoyang-goyangkannya ke atas hingga membuat bayangan seperti nyala api yang bergerak-gerak.

Setelah percikan api padam, mereka berebutan untuk menyalakan lagi.

Seperti waktu saya kecil saja.

Saling berlomba agar dapat giliran untuk menyalakan kembang api lebih dulu dibandingkan yang lain.

Ritual bermain kembang api semacam itu tidak akan pernah saya lewatkan. Terlebih saat saya sekeluarga pulang kampung ke Semarang.

Saya bahkan rela mengorbankan waktu menonton televisi maupun waktu tidur saya di malam hari agar bisa menyalakan kembang api di pekarangan rumah Mbah Putri.

Menikmati permainan ini akan selalu didampingi oleh orang dewasa. Entah Ayah atau Ibu, Pakdhé atau Budhé, Om atau Tante, kakak-kakak sepupu, atau siapapun. Merekalah yang akan memegang korek dan menyulut kembang api itu. Kami, anak-anak kecil, hanya tinggal memegang ujung kembang api dan menunggunya menyala sesaat setelah disulut.

Saya sangat menikmati saat-saat penantian habisnya percikan api dari batang lidi tersebut.

Kalau saudara-saudara saya yang lain akan menggoyang-goyangkannya untuk membentuk bayangan cahaya di kegelapan, saya lebih memilih untuk memegang batang kembang api itu diam-diam saja. Saya senang melihat bagaimana bunga api secara perlahan memakan habis batang lidi dan membuatnya hangus.

Bahkan ketika bunga api itu sudah dekat dengan tempat tangan saya memegang batang lidi, saya masih belum ingin melepaskannya sampai bunga api itu benar-benar habis dan batang lidi sudah hangus terbakar.

Walaupun percikan bunga api mengenai tangan saya, saya belum ingin melepaskannya.

Perih sih memang.

Saya tidak peduli.

Yang penting saya bisa menyaksikan percikan bunga api benar-benar menghabiskan batang lidi.

Tapi ternyata menahan rasa sakit yang mendadak menyerang dada saya ini tidak semudah itu.

Kadang saya menyesal dengan apa yang tengah saya kerjakan ini. Kadang saya ingin berbelok saja dari jalur yang tengah saya jalani.

Kadang muncul keinginan untuk berhenti menjadi seorang [calon!] psikolog.

Seperti beberapa hari belakangan.

Dan juga hari ini.

Ketika saya sedang terserang gejala influenza, kehabisan tenaga akibat bersin-bersin, kelelahan karena kurang beristirahat, ditambah lagi PMS yang ikut-ikutan menjenguk saya.

Lengkap sudah.

Di saat saya ingin ditemani, malahan sayalah yang harus menemani.

Saat sedang membutuhkan seseorang untuk duduk di samping saya, sayalah yang harus menjadi ‘seseorang’ itu bagi orang lain.

Dan ia malahan mulai berbicara panjang-lebar, bercerita ke sana-kemari, di saat saya sedang ingin menikmati suasana yang serba bisu.

Mengapa saya tidak pergi saja dari sana?

Saya tidak bisa.

Saya ingin sekali sebenarnya.

Ingin sekali memintanya menutup mulut barang beberapa menit.

Lalu jika ia masih saja berbicara, mungkin akan lebih mudah buat saya untuk menyuruhnya diam. Dengan nada bicara yang lebih keras. Mungkin memakinya.

Lalu meninggalkannya di tempat itu.

Tapi niatan itu pupus seketika saat melihatnya menundukkan kepala.

Melihat matanya berkaca-kaca.

Saat ia mulai bercerita mengenai apa yang tengah terjadi padanya. Mengenai bagaimana perasaan sakit yang amat sangat menyerang dadanya ketika itu terjadi.

Yang membuat tubuhnya tiba-tiba lunglai saat mulai berbicara tentang semua itu pada saya.

Saya tahu ia tidak butuh nasihat.

Saya tahu ia sedang tidak ingin mendengar ceramah.

Saya tahu ia hanya ingin agar saya tetap di sana, menemaninya.

Hal yang justru paling sulit untuk saya lakukan.

Jauh lebih mudah buat saya untuk memberikan saran kepadanya, memintanya melakukan sesuai dengan apa yang saya katakan, dan case closed.

Saya bisa pulang.

Tanpa harus memikirkan kelanjutannya.

Tapi toh bukan itu yang saya lakukan.

Saya malahan menggeser kursi saya mendekat kepadanya.

Mengusap punggungnya untuk memberitahukan kepadanya bahwa saya masih ada di sampingnya.

Melihatnya mulai menangis, membuat saya ingin menangis juga.

Bukan.

Bukan karena saya merasakan apa yang tengah dirasakannya.

Tapi karena saya merasa lelah.

Saya lelah untuk menyediakan telinga lebar-lebar, sementara saya sedang ingin dihibur dan diajak bercanda. Saya lelah untuk terus menemani orang lain, sementara saya membutuhkan orang lain untuk menemani saya. Saya lelah untuk memasang wajah ‘baik-baik saja', padahal saya sedang membutuhkan bahu untuk bersandar dan mengeluarkan air mata.

Dan saya lelah untuk terus menekan rasa sakit yang tidak menyenangkan ini.

Entahlah...

Mungkin saya hanya terlalu lama memegang batang kembang api itu.

Sampai-sampai tidak sadar kalau yang saya pegang adalah bagian yang memang seharusnya akan hangus seiring dengan merambatnya percikan api.

Berhenti bermain kembang api?

Kamu gila?

Ya jelas tidak!

Saya mungkin hanya membutuhkan waktu istirahat sebentar sebelum menyulut kembang api yang lain. Untuk duduk mengistirahatkan kaki atau mengambil minum.

Lagipula, bukankah di saat-saat seperti inilah yang paling pas untuk memainkannya?

Sepulangnya kamu shalat tarawih bagaimana?

website page counter

ADA 19 KOMENTAR:

» Blogger thornandes james:

uhh. . kok sedikit mirip sih keadaannya dengan saya. .

kita maen mercon yok. . xP
*hug*

September 25, 2006 12:47 AM  
» Anonymous mata:

kalau mai kembang api sih ngga apa apa, tapi kalau mercon jangan deh
bahaya
lagian juga ngga baik ngagetin orang. dosa lho.,.

hahaha

September 25, 2006 7:59 AM  
» Blogger iin:

wahh..
tentu saja siapapun ingin bersama mbak agatha.. menantikan komentar2nya yg insightful.. atau hanya berada disampingnya (itung2 ketularan self esteem yg lebih tinggi) wakakakak..

kadang memang tak perlu kata2 untuk memberikan isnpirasi bg org lain ;)

mbak agtha klo PMS suka sakit juga gak peryutnya?? ;p

September 25, 2006 12:02 PM  
» Anonymous rymnz:

bagaimana kalo sesekali jadi kembang apinya ?.. menarik bukan.. :D

September 25, 2006 5:03 PM  
» Blogger tyka82:

aku gag suka kembang api. bahaya... kamu tuh contoh yg sdh luka kena kembang api :(

http://tyka82.blogspot.com/

September 25, 2006 7:22 PM  
» Anonymous japro:

setuju banget dengan rymnz

or

you should tell the 'kembang api' mau sebesar apa nyala apinya sebelum kamu "menyumetnya" ...

September 25, 2006 9:19 PM  
» Blogger Shrivastava:

james:
trus habis disulut, tuh mercon mau dipegang apa ditaro?!
*hugs*

mata:
bagus kalok cuma ngagetin orang... yang nyulut juga kaged nih ;p

iin:
jiyeeee yang abis dapet pencerahan ;D

rymnz:
saya? jadi kembang apinya? yang bilang belum sapa? ;D

tyka:
waduh... saya kenapa?
main kembang api tuh enak lho mbakyu... beneran deh!

japro:
hmmm... saya pikir cuma rymnz doang. eh dia ikutan! ;D

September 25, 2006 9:40 PM  
» Anonymous t-one:

shall we hug each other ?

kangen...

September 26, 2006 9:18 AM  
» Blogger bunderbulet:

maennya sambil duduk bersila sihhh :P

September 26, 2006 9:34 AM  
» Blogger mutiara nauli pohan:

maen kembang api menyenangkan tapi sakit2 gimana gituuu yah

September 26, 2006 3:19 PM  
» Blogger konnyaku:

*hugs* (juga deh :D)
so you wouldnt have to listen to my crap hoho :)

September 26, 2006 8:01 PM  
» Blogger Shrivastava:

t-one:
why not?! ;-)

avie:
ya masa sambil tidur tengkurep?
duuuuhhhh akhirnya dirimu kembali lagi kang... sayanyah sampe semedi mencarimu ;D

uli:
sejenis sadomasokis kali ;D

stella:
it's enough ;-)

September 26, 2006 10:05 PM  
» Anonymous Anonymous:

hasil belajar? ntar yah.. kalo dah punya camdig sendiri..

--budiw
budiwijaya.or.id

September 27, 2006 9:37 AM  
» Blogger topan:

pasti semuanya gak pernah maen kembang api, seumur-umur gw belon pernah nemuin kembang api dari lidi, pasti dari kawat.
Kalo gw paling seneng ngeliatin orang jualan Bakmi Jowo, bara arangnya pating pretek kayak kembang api.Piye jal...?

September 28, 2006 3:21 PM  
» Blogger Shrivastava:

budiw:
didoakeun deh...

topan:
sing dhodol bakmi jowo nganggo lidi opo kawat? ;D

September 29, 2006 9:24 AM  
» Anonymous tyka82:

ya kamu kan udah kena sulut kembang api jeng..kan kasian, pasti sakit..huhuhu *nangis*

aku gag suka maen kembang api y karena takut ntar api nya mercik kemana2 gt loh..

*parno*

September 30, 2006 2:00 PM  
» Anonymous aRma:

Selama menikmati kembang api baru jeeeng....

October 02, 2006 8:08 PM  
» Blogger Shrivastava:

tyka:
justru kena percikan itu salah satu bagian menariknya jeng ;D

arma:
terima kasih lho kaaannggg ;-)

October 03, 2006 11:14 AM  
» Anonymous Anonymous:

Ternyatahh.. temanku tughe yang satu ini sudah menjadi seorang penulis yang handal yah... Good job :>

October 31, 2006 12:09 PM  

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS