in memoriam: Telepon Koin

Thursday, June 08, 2006

Akhirnya... kembali lagi ke ruang kerja saya!

Dan saya kembali menyadari, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Memeriksa makalah mahasiswa-mahasiswa saya, berdiskusi dengan kedua asisten, lalu mengolah semua nilai yang ada dari tugas-tugas dan ujian mereka untuk dijadikan nilai akhir matakuliah yang saya pegang ini. Dan dalam beberapa hari ke depan, nilai-nilai itu sudah harus masuk ke database Fakultas.

Yah... berhubung ini adalah pertama kalinya saya harus melewati proses semacam itu, kok rasanya gimanaaaa gitu... Sumpah deh! Ikut deg-degan juga jadinya.

Lalu seperti biasa deh... Kalo mulai merasa tidak nyaman seperti ini, tiba-tiba jadi begitu banyak hal lain yang tampak lebih menarik untuk dikerjakan.

Salah satunya... itu tuh... pria bule di depan sana.

Melihatnya sedang menelpon dengan menggunakan handphone-nya yang luar biasa besar [dan canggih pastinya!], saya kok tiba-tiba teringat pada pemandangan yang saya lihat di bandara Soekarno-Hatta beberapa hari yang lalu.

Iya, waktu saya menjemput JULES itu.

Kami [saya dan Ibu] masih belum mendapat kepastian, sebenarnya dia naik pesawat apa, penerbangan nomor berapa, dan diperkirakan tiba jam berapa. Yang kami tahu, dia berangkat dari Singapore setelah dini harinya berangkat ke Singapore dari Darwin. Yang kami juga tahu, kedatangannya sekitar siang hari.

Karena tidak mau mengambil resiko akan terlambat menjemput, kami pun berangkat jauh lebih awal. Sehingga, setibanya di bandara pun kami harus menunggu dalam waktu yang cukup lama. Ada saja kegiatan yang kami lakukan untuk menghabiskan waktu: makan, berjalan mengelilingi terminal-terminal, bahkan ke kamar kecil. Sampai kami lelah, kami pun memilih untuk duduk di salah satu tempat duduk yang tersedia.

Jadilah kami mengobrol ngalor-ngidul tanpa kejelasan. Lalu tiba-tiba seorang pria berjalan ke arah kami, dan berbelok ke jajaran telepon umum yang letaknya hanya beberapa meter dari tempat kami duduk.

Yang pertama kali terlintas dalam kepala saya, untuk apa dia menelpon dengan menggunakan telepon umum? Bukankah dia memiliki handphone? Yang ini saya tahu [atau lebih tepatnya adalah sotoy], hanya karena melihatnya mengenakan hands-free. Handphone-nya sendiri? Ya mana saya lihat?!

Telepon umum. Yang masih menggunakan koin pula.

Saya dulu cukup sering menggunakan fasilitas telepon umum koin yang bentuknya tidak lebih indah dari yang digunakan si pria ini. Berwarna kuning atau oranye, berbentuk seperti kotak sepatu yang tampilannya polos, hanya dihiasi sejumlah tombol berwarna putih dan layar kecil dot-matrix. Kalau dibandingkan dengan telepon umum yang menggunakan kartu, telepon koin ini jelas tidak lebih baik tampilannya.

Tapi entah kenapa, saya lebih suka menggunakan telepon umum koin.

Mungkin karena saya sudah bisa menggunakannya untuk menelpon sekalipun hanya memiliki 100 rupiah. Mungkin juga karena saya bisa menggunakannya sewaktu-waktu saya membutuhkan, tanpa harus menyimpan kartu telepon. Atau... karena telepon umum ini letaknya di dekat pos satpam sekolah, dan agak tersembunyi. Jadi saya bisa menggunakannya lama-lama tanpa khawatir ada orang lain akan mengantri.

Sampai akhirnya, bangku panjang dari papan kayu yang ada di depan pos satpam, dan di dekat telepon koin ini pun cukup sering jadi tempat nongkrong saya dan beberapa teman saya [baca: gank]. Yah... mungkin jadinya seperti menandai wilayah kekuasaan kami, yang adalah si telepon koin ini [tidak mungkin kan kami menganggap bahwa pos satpam itu juga wilayah kekuasaan kami?!].

Tidak hanya itu. Telepon koin yang letaknya di lapangan dekat rumah pun juga jadi langganan saya. Sekalipun di sebelahnya ada telepon kartu.

Sekarang?

Saya sudah punya handphone.

Mengapa saya tidak lagi menggunakan telepon koin itu?

Yaa... karena dengan adanya handphone, saya akan lebih mudah berkomunikasi dengan siapapun di manapun saya berada, dan apapun kegiatan yang sedang saya lakukan. Kalau sewaktu-waktu saya harus menghubungi seseorang, saya tidak perlu repot mencari-cari telepon koin. Apalagi kalau ternyata saya tidak membawa uang koin. Dan lagi, kalau saya ingin menyampaikan pesan, kan bisa melalui SMS tanpa harus menelpon.

Tapi kalau pulsa saya sedang tiris, pesan yang hendak saya sampaikan tidak akan dapat dilayangkan melalui SMS, dan yang saya miliki justru sejumlah uang koin... Rasanya saya tidak yakin bahwa telepon koin akan menjadi pilihan yang akan saya gunakan.

Mungkin saya lebih memilih untuk menghabiskan sekian puluh ribu untuk membeli pulsa. Atau... kalau saya benar-benar tidak memiliki sepeser pun uang selain beberapa uang koin tadi, mungkin akan lebih baik bagi saya untuk tidak menyampaikan pesan itu.

GENGSI??

Barangkali.

Nah... itu dia kedua asisten saya sudah datang.

Tapi... waduh!! Saya belum selesai memeriksa makalah-makalah ini!!

website page counter

ADA 8 KOMENTAR:

» Blogger .:nien:.:

tapi kalo pake tepon koin ... biasanya agak2 bau piyeeee ngunu yoo?

June 08, 2006 3:19 PM  
» Anonymous t-one:

Different jaman different telpon tante dosen... (bener mas japro cocok banget dipanggil tante :)) )

Mungkin dulu tante lebih suka pake telpon koin karena kebutuhannya ya memang cuman itu, tapi sekarang..... (ha ha ha...) - lain khan :))

So... telpon koin memang cuman untuk dikenang kalee, kecuali kalo emang kepepets bangets.....

June 08, 2006 4:15 PM  
» Blogger thornandes james:

bagaimana ingin digunakan, tampak dari kejauhan berapa ratus meter aja telepon koin saat ini jg sudah tidak layak lihat lagi. . blm lagi klo bicara kebersihan. . itu kan nempel ma muka klo dipake. . hiii! huhuhuhu. . =p

June 09, 2006 12:52 AM  
» Blogger Shrivastava:

mbak nien & james:
hmmm... yah memang itu akhirnya jadi pertimbangan juga sih... masalah kebersihan, bau, dan sejenisnya...
saya juga nemu yang layak pakai itu ya di bandara. kalok di tempat lain *no further comment ah* ;-)

t-one:
selamad hadir kembali dirimu ;D
justru itu... masalahnya, kepepet atau enggak kok kayanya enggan juga untuk make si tiplun koin itu ya...

June 09, 2006 9:03 AM  
» Anonymous aRma:

Addduuuh sgitu parnonya sama telpon umum, mmm memory juga dulu waktu belon pnya henpon [1998] daku selalu pake telpon umum bwat pacaran hwekeke... tapi telpon umum ditempat daku warnanya silver-biru dan bersih, trus duitnya keluar lagi jadi cukup 100 bisa telpon semaunya **azas manfaat

Tapi sejak punya henpon daku lebih sering pake telpon kantor... l-l-loooh
Karena bisa irit selaluh gegege...

Mmm BTW dikau maunya dipanggil apa niih kalo bukan bu Dosen ?
Masa tante kaya si t-one gegege...

June 09, 2006 1:58 PM  
» Anonymous t-one:

Tante, siapa sih yang gak enggan kalo kepepet...,
kecuali kalo tante emang hobi DIPEPED.... =))

untuk arma, kalo enggan memanggil bu Dosen mungkin bisa diganti dengan panggilan sayang Non Shrivas...

June 09, 2006 4:23 PM  
» Blogger Shrivastava:

arma:
telpon kantor hmmm... menarik untuk dipertimbangkan. apalagi kalok buat pacaran ;D
btw, gimana kalok manggil saya MbakDos? hwehehehe...

t-one:
oh well... you really are my secret admirer i guess...
knowing so much about this woman named non shrivas ;-)

June 12, 2006 12:09 PM  
» Anonymous paman tyo:

ceklek, klunting, koin merosot, lolos ke luar. lalu tut-tut-tut.

ya, ya, ya. telepon koin. tapi masihkah kita selalu punya stok koin?

hmmm telepon koin...

October 13, 2006 12:34 PM  

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS