Deeply Explosing

Wednesday, May 10, 2006

Periksalah kembali barang bawaan Anda.

Dan studio kembali terang. Lampu kembali dinyalakan.

Lumayan. Bagus juga. Paling tidak... memang menjanjikan thriller seperti yang digembar-gemborkan itu [selain menjanjikan Tom Cruise tentunya!]. Film-film dengan genre semacam itulah yang memang menarik minat saya.

Tapi, kalau kamu tahu, saya sempat selama beberapa bulan puasa untuk menonton film berjenis sama. Film yang sebenarnya justru saya gemari.

•••

RUSH HOUR 2

Saya bahkan masih ingat betul film itu. Paling tidak, judul dan kedua pemeran utamanya. Jackie Chan dan... nah sekarang saya betul-betul lupa siapa si-hitam-nan-cerewet itu.

Action. Thriller. Comedy.

Begitulah yang tertera di beberapa resensi yang sempat saya baca. Pemerannya Jackie Chan pula! Mmm... kelihatannya bagus. Maka saya tidak keberatan ketika seorang pria [yang kemudian menjadi kekasih saya – kala itu] mengajak saya menonton film tersebut.

Saya mulai menikmati setiap adegan yang ditayangkan. Adanya tambahan komedi di belakang action dan thriller kelihatannya telah memberikan tambahan nilai. Dan saya semakin menikmati saat terjadi kejar-kejaran antara si jagoan dengan penjahatnya. Sampai tiba-tiba...

DHUAAARRRRRRR!!!!!

Tangan saya menggenggam erat lengan kursi. Punggung saya tegak. Badan saya kaku. Tanpa sadar saya melakukan itu semua. Tiba-tiba saja saya bengong, dan saya yakin wajah saya tampak tolol saat itu.

Mobil sang penjahat meledak.

Pria di samping saya kemudian menoleh, kelihatannya hendak bertanya, atau bingung, saya pun kurang tahu pasti. Ketika saya menyadari tatapannya, saya kembali meletakkan punggung saya di sandaran kursi. Mencoba meredakan detak jantung yang tidak mau berjalan lebih lambat. Dan ternyata cengkeraman tangan saya masih belum terlepas dari lengan kursi.

Inginnya saya berlari keluar dari studio itu. Atau bahkan dari gedung itu.

Saya tidak tahu. Saya hanya tiba-tiba merasa takut.

Adegan-adegan seru berikutnya, saya tidak tahu. Sampai film berakhir, saya tidak ingat apa yang ditayangkan. Yang saya tahu, masih ada beberapa adegan yang menayangkan ledakan-ledakan semacam itu. Dan saya masih memunculkan reaksi yang sama.

Saya hanya ingat suara keras semacam itu.

Suara ledakan yang memekakkan telinga.

•••

MISA

Seperti hari Minggu biasanya, saya mengikuti perayaan Misa di Gereja. Karena Gereja ini letaknya hanya 15 menit perjalanan-dengan-berjalan-kaki dari rumah saya, maka saya tidak akan terburu-buru. Apalagi saya mengendarai mobil.

Pagi itu, saya, adik saya, dan kedua orangtua saya tampaknya tiba terlalu pagi di Gereja. Yang kami maksud terlalu pagi tentunya hanya 30 menit sebelum Misa dimulai. Dan Gereja masih agak lengang. Ayah saya pun mengusulkan untuk duduk di barisan yang agak depan [karena kami biasanya duduk di barisan tengah atau belakang]. Baris ketiga dari depan, tepatnya.

Sampai 30 menit berikutnya, Gereja berangsur padat. Dan bangku yang tersedia semakin sedikit. Lalu Misa dimulai. Seperti biasa.

Pastor baru hendak memulai khotbahnya.

DHUAAAARRRRRR!!!!

Lampu mendadak padam. Gelap.

Saya hanya tahu Ayah berteriak dengan suara keras, meminta [baca: menyuruh] kami keluar melalui pintu samping Gereja. Ayah merangkul adik dan bergegas keluar. Saya menggandeng Ibu, meraih tas, lalu segera keluar.

Bersama dengan berpuluh-puluh orang lain, kami keluar dari gedung Gereja. Saya, adik, dan Ibu kemudian duduk di sebuah taman samping Gereja, yang kami sebut sebagai Gua Maria. Kami duduk di pelatarannya, di lantai. Menghadap ke arah gedung Gereja. Sementara Ayah, dengan mengenakan sepatu sandal yang hanya tertinggal di sebelah kakinya, sibuk membantu orang-orang lain keluar dari pintu utama Gereja.

Barusan itu apa?

Saya hanya ingat mendengar suara keras. Lampu yang tiba-tiba padam. Telinga saya sakit bukan main. Dan kepala saya pusing, seperti baru saja kejatuhan sesuatu yang berat. Badan saya gemetar.

Lalu saya melihat beberapa orang keluar dengan darah yang mengucur dari tubuh mereka.

Ada apa ini??

Saya kemudian menangis. Saya tidak tahu mengapa saya menangis.

•••

Semula saya hanya melihatnya di halaman-halaman depan suratkabar. Atau di berita-berita utama televisi. Dan lebih sering lagi di film-film produksi Hollywood.

Tidak pernah terbersit sekali pun bahwa saya akan mengalaminya sendiri.

Jadi seperti inikah rasanya?

Bukan karena ledakannya. Tetapi apa yang saya rasakan setelah ledakan itu terjadi, itu yang luar biasa membuat saya benci setengah mati.

Membuat saya selama beberapa waktu menolak mati-matian untuk pergi ke Gereja. Saya tidak mau pergi ke mal-mal atau gedung-gedung apapun. Saya bahkan tidak mau pergi seorang diri ke manapun.

Membuat saya terkejut bukan main saat ada orang membanting pintu, saat ada balon meletus, saat ada benda terjatuh. Membuat jantung saya bekerja lebih keras dari biasanya. Membuat saya seringkali takut sekaligus marah.

Apakah ini yang diharapkan untuk terjadi oleh si pelaku? Apakah dampak semacam ini yang memang diinginkannya?

Entahlah... karena saat itu, bagi saya, mungkin akan lebih baik jika saya mati saat itu juga daripada harus mengalami hal-hal semacam itu. Kalau pada akhirnya saya mati dengan segera, toh saya tidak perlu merasakan hal-hal yang seperti ini dan meninggalkan borok yang… saya bahkan tidak tahu akan sembuh atau tidak.

Apakah hal-hal semacam ini yang membuat mereka menyebut diri sebagai teroris? Karena keahlian mereka dalam menciptakan teror? Karena kenikmatan mereka dalam menyaksikan apa yang terjadi setelahnya? Dan bukankah hal-hal semacam ini yang mereka sebut sebagai teror?

If it is, then... you just right! YOU ARE RIGHT!

website page counter

ADA 0 KOMENTAR:

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS