Sarung di dalam Mobil Merah

Thursday, January 11, 2007

Untuk kesekian kalinya, rasa malas mengajak si hitam berjalan-jalan telah memaksa saya mengangkat gagang telepon dan meminta salah satu armada taksi menjemput ke rumah.

Sebenarnya tujuan kepergian tidak terlalu jauh. Tapi karena Ibu sudah memberitahukan bahwa beliau akan berbelanja, tenaga saya pasti sudah akan habis sebelum kembali sampai ke tempat di mana si hitam diparkir.

Bagaimana tidak?!

Saya harus mendorong trolley, mengangkat barang yang hendak dibeli, sampai memasukkan semua belanjaan ke bagasi si hitam. Istilah belanja yang semula menyenangkan buat saya, kalau mendengar Ibu yang mengucapkannya, rasanya kesan itu hilang seketika. Kecuali kalau boleh memasukkan barang-barang keperluan pribadi saya ke dalam trolley juga

Karena itulah jasa bapak supir taksi benar-benar sangat membantu.

Ibu yang tampaknya sudah cukup mengerti alasan saya menggunakan taksi pun tidak bertanya. Mungkin beliau justru senang karena anaknya ini telah bersedia dengan sukarela menyumbangkan tenaga untuk menjadi kuli angkut barang belanjaannya.

Lha, kata siapa anaknya senang?!

Ah, nevermind.

Jadi, sekalian saja saya lengkapi kegembiraan Ibu dengan mengajaknya berbincang-bincang, atau lebih tepatnya saling mencela dan berkomentar jayus mengenai apa saja yang bisa kami komentari sepanjang perjalanan. Maklum, bakat melawak ala Srimulat tampaknya memang faktor genetik.

Serunya saling melontarkan guyonan tiba-tiba saja harus berakhir ketika taksi yang kami tumpangi berhenti akibat lampu yang menyala merah di sebuah perempatan jalan.

Bukan karena pengamen yang menempelkan diri di kaca jendela. Bukan karena pedagang asongan yang kekeuh menawarkan dagangannya. Bukan juga karena konvoi kendaraan yang ingin melintas mendului kendaraan lainnya.

Tapi karena mobil merah yang berada persis di depan taksi kami tidak kunjung melaju, sementara lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau.

Sama seperti saya dan Ibu, kelihatannya bapak supir juga bertanya-tanya apa yang tengah terjadi dengan mobil itu. Ia bahkan mengurungkan niat untuk terus membunyikan klakson.

Seorang pria yang semula berdiri di trotoar, dengan agak berlari, menghampiri mobil merah itu. Beberapa kali ia mengetok pintu mobil di sebelah kanan depan sampai kemudian pintu tersebut terbuka, dan masuklah ia ke dalam mobil. Duduk di kursi supir, sementara wanita yang semula duduk di sana pun bergeser ke kursi di sampingnya.

Dan melajulah mereka dengan kecepatan rendah. Membuat bapak supir melajukan taksinya lebih cepat agar bisa mendahului mobil merah itu.

Masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pengemudi mobil merah, saya dan Ibu menolehkan kepala ke belakang. Mencoba melihat apa yang masih bisa tampak melalui kaca taksi bagian belakang. Bahkan bapak supir pun beberapa kali melihat apa yang terpantul melalui kaca spion di depannya.

Pria yang semula berdiri di trotoar itu kini menjadi pengendara mobil merah di belakang kami. Ia menatap lurus ke depan, masih memegang setir sambil berbicara.

Wanita di sampingnya, yang tampaknya adalah lawan bicaranya, duduk miring menghadap ke kursi supir. Di satu tangan ia memegang dompet, sementara tangan yang lain kelihatannya mengeluarkan isi dompet tersebut satu-persatu.

What the hell was that?

“Waahh... jangan-jangan itu rampok?!”

“Sing nggenah kowe ki?!” (baca: Yang bener kamu?!)

“Habis... tuh liat, Ma... Ngapain coba dia ngeluarin dompet gitu?!”

“Aduh... piye iki?!” (baca: Aduh... gimana ini?!)

Lalu kepala saya mulai dipenuhi dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam mobil merah itu.

Jangan-jangan pria bercelana pendek dan mengenakan sarung yang menyilang dari bahu sampai paha itu adalah seorang perampok. Secara kebetulan mobil merah itu melintas di hadapannya. Karena dikendarai oleh seorang wanita, dan tidak ada penumpang yang lain, ia pun menganggapnya sebagai sasaran empuk yang bisa dilumpuhkan dengan segera. Maka sebelum sang korban menjauh dan lolos, pria bersarung itu segera saja melancarkan aksinya.

Dan aksi kejahatan itu semakin didukung karena wanita pengendara mobil merah ternyata tidak mengunci pintu mobilnya. Atau kalaupun ia menguncinya, ia sudah keburu tidak berdaya saat pria bersarung mengetok pintu dan memampangkan wajah sangarnya.

Lalu setelah si pria berada di dalam mobil, si pemilik kendaraan semakin tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melakukan apa yang diminta, sementara mobilnya dikendarai oleh pria tersebut. Menyerahkan seluruh isi dompet, kemudian semua barang berharga yang dimiliki, mungkin hanya permulaan.

Mungkin pria bersarung akan terus mengendarai mobil ke tempat yang jauh dan terpencil, lalu memaksa wanita di sampingnya untuk turun, lalu ia melaju dan tetap membawa mobil merah itu sebagai salah satu barang berharga yang diinginkannya.

Masih bagus kalau hanya itu yang diinginkannya.

Kalau pria itu menginginkan benda berharga yang lain?!

Eerrgghh... Saya bahkan tidak sanggup membayangkannya!

Eh tapi...

Mungkin saja pria bersarung tidak sejahat itu. Mungkin saja ia segera turun dari mobil merah setelah memastikan bahwa tidak ada lagi barang yang diinginkannya, dan membiarkan si pemilik membawa kembali kendaraannya.

Atau bahkan ia memang hanya menginginkan uang beserta isi dompet wanita itu saja. Mungkin saja ia sedang dalam kondisi sangat membutuhkan uang tunai, dan memang itu saja yang diambilnya dari si wanita. Jadi kalaupun ada barang berharga lain, ia tetap tidak akan mengambilnya karena tidak membutuhkannya, sekalipun wanita di sampingnya itu sudah berniat memberikan.

Atau jangan-jangan...

Pria bersarung memang adalah salah seorang kenalan si pemilik mobil merah?!

Kalau tidak, kenapa wanita itu membukakan pintu baginya?! Pintu mobil itu ‘kan seharusnya merupakan pertahanan baginya dari lingkungan sekitar yang mungkin mengancam keselamatannya. Kalau ia tahu bahwa pria itu bukanlah orang yang dikenalnya, sudah sewajarnya ia tidak akan membuka pintu.

Lalu, apa artinya ia membuka dompet dan mengeluarkan isinya?!

Mana saya tahu?!

Dan karena itu pulalah saya segera membantah saat Ibu meminta bapak supir taksi berhenti, persis di depan mobil patroli polisi yang terparkir di tepi jalan.

Saya tahu Ibu bermaksud menyuruh saya turun dari taksi dan melaporkan apa yang kami lihat kepada Bapak Polisi, sebelum perempatan jalan yang memungkinkan mobil merah berbelok dan kemudian kami akan kehilangan jejaknya.

Tapi apa yang harus dilaporkan?!

Kejahatan?

Yang mana?

Apa yang kami lihat terjadi di dalam mobil merah itu ‘kan belum bisa dipastikan sebagai sebuah tindak kejahatan?!

Bahwa pria bersarung itu adalah perampok yang menginginkan seluruh harta benda si pemilik mobil ‘kan hanya dugaan saja.

Bahwa ia mungkin akan membawa mobil merah beserta pemiliknya ke daerah yang terpencil, lalu membuang wanita itu di sana, juga hanya perkiraan.

Tentang si pemilik mobil yang mungkin juga bisa diperkosa, juga sebatas dugaan belaka.

Saya toh tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Pria bersarung yang semula berdiri di trotoar bisa saja memang perampok, bisa saja ia adalah seorang pemerkosa, atau juga penjahat kejam. Tapi bisa juga ia adalah salah seorang kerabat wanita pemilik mobil merah.

Semuanya mungkin saja.

Dan saya tetap tidak tahu mana yang benar.

Saya toh tidak bisa mengatakan bahwa dugaan saya itu pasti terjadi dan bisa dibenarkan ‘kan?!

Jadi daripada melapor kepada Bapak Polisi mengenai apa yang (baru) mungkin terjadi, rasanya akan lebih baik jika saya menghentikan mobil merah dan langsung saja bertanya kepada kedua orang di dalamnya tentang apa yang sebenarnya terjadi, ‘kan?!

Yah... kelihatannya saya memang harus mengurangi frekuensi menonton infotainment.

website page counter

ADA 4 KOMENTAR:

» Blogger tyka82:

mengerikan sekali....

semoga itu hanya sekedar pertengkaran suami istri biasa saja...

hehehe...

January 12, 2007 8:42 AM  
» Anonymous Anang:

wah bener tuh siapa lagi kalau bukan perampok

January 13, 2007 4:59 AM  
» Anonymous rymnz:

jadi jadii gemana endingnya ini teh?.. *emangnya cerpen* :D..

January 15, 2007 10:35 AM  
» Anonymous Paman Tyo:

Terus piye? Duh sayang, gak tuntas. :) Lebih tuntas Pak Masrur sang ahli "psicologie" itu.

BTW saya pernah melihat sebuah mobil agak zig-zag, sedikit oleng, lalu menepi. Ternyata pengemudinya, seorang pria, sedang ditampari dan dicakari oleh wanita yang duduk di sebelahnya. Setelah diliatin banyak orang, mobil kembali berjalan, tanpa oleng.

Sayang saya nggak punya stiker "Stop Kekerasan terhadap Pria!". Kalo ada saya tempelin di mobil itu. :D

January 15, 2007 10:48 AM  

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS