Nando yang Hilang

Tuesday, May 02, 2006

Saya?

Masih seperti biasa.

Entahlah... sesuatu yang beberapa menit lalu berkelebat dalam kepala saya, membuat saya tergoda untuk menelponmu. Sesuatu tentang apa yang pernah kita bicarakan beberapa waktu yang lalu. Membuat saya teringat pada Nando.

Ya, Nando.

Nando sempat menjadi seorang pengunjung tetap di ruangan ini. Dialah yang semula menempati ruang kerja saya. Dan ruang kerja saya sebelumnya berada tepat di samping ruangan Nando [kala itu]. Saya pun [dengan tidak tahu malu] terpaksa bolak-balik ke ruangannya untuk mendapatkan listrik agar notebook saya tidak kehabisan baterai.

Heran. Dia toh hanya kadang-kadang saja menggunakan colokan listrik itu untuk notebook yang dibawanya. Kenapa dia terus berkeras tinggal di tempat itu? Dan kamu tahu yang paling menyebalkan? Dia hanya mempersilakan saya menggunakan colokan listrik, tanpa ada niat berpindah dari ruangannya! Hhmmpphh... menyebalkan!

Tapi lama-kelamaan, mau-tak mau, saya pun jadi ‘akrab’ dengan Nando. Eh, jangan salah! Akrab yang saya maksudkan di sini adalah seringnya saya ‘meminjam’ colokan listrik darinya, secara dia memang belum berniat menghibahkan ruang kerjanya pada saya.

Sebenarnya datang jam berapa sih dia, kok setiap saya datang dia pasti sudah ada di ruangan itu? Saya jadi tidak punya kesempatan untuk menggunakan ruangan itu terlebih dulu, 'kan?!

Dan saat dia menyadari kejengkelan terpendam saya, [thank’s GOD] tiba-tiba saja Nando beranjak dari duduknya dan menghampiri saya.

“Padahal kamu tinggal bilang kalau memang mau menggunakan ruangan ini.”

Bukannya senang, saya semakin dongkol mendengarnya. Toh saya tidak segitu-gitunya amat membutuhkan ruang kerjanya! Saya masih bisa berpindah ke ruangan lain yang ada colokan listriknya juga. Sombong sekali sih dia!

Tanpa menunggu reaksi verbal yang keluar dari mulut saya, Nando segera memindahkan cangkir kopinya ke meja saya. Juga buku berbahasa Inggris yang sedang dibacanya, postman bag abu-abu, sebungkus rokok, dan juga notebook-nya. Dan tanpa permisi pula, ia memindahkan seluruh perlengkapan perang saya ke meja - yang semula adalah mejanya. Apa-apaan ini?

“Boleh saya bantu memindahkan ini?”

Dan entah mengapa [bodohnya!] saya hanya mengangguk saja saat ia mengangkat notebook saya dan memindahkannya secara hati-hati ke mejanya.

Ia juga mengangkat cangkir saya yang sudah kosong, melihat isinya, lalu menatap saya.

“Hot cinnamon streusel latte?”

Ah! Senyumnya!! Menyebalkan! Seolah dia tahu segalanya!

Dan Nando membawa pergi cangkir saya, tampaknya memesankan kembali minuman yang sama.

*sigh*

Saya kangen Nando.

Sudah hampir setengah tahun berlalu sejak terakhir kali kami berjumpa di sini. Tidak untuk bekerja, tetapi mendengarkannya menceritakan sesuatu – yang ia sebut sebagai – isi hatinya.

Yah... dia mencintai saya.

Sementara saya?

Saya masih menganggapnya sebagai seorang sahabat. Seseorang yang terdekat, yang sangat memahami saya, tanpa ada bumbu percintaan di sana. Saya menyayanginya.

Lalu Nando menghilang.

Saya sempat menyalahkan diri saya sendiri. Seharusnya ketika sinyal-sinyal bahwa Nando menyukai [baca: naksir] saya, saya sudah membicarakan tentang hal ini kepadanya. Tentang kesepakatan hubungan saya dengannya. Bahwa dia berhak untuk tahu bagaimana pendapat saya, bagaimana perasaan saya terhadapnya.

Nyatanya tidak demikian.

Saya terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Saya terlalu takut akan kehilangan dia jika saya menyatakan apa yang saya rasakan, apa yang saya harapkan darinya.

Dan saya justru kehilangan Nando.

Saya benar-benar merindukannya. Saya masih sangat menginginkannya menjadi sahabat terbaik saya.

website page counter

ADA 0 KOMENTAR:

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS