dear: Happiness

Wednesday, April 26, 2006

Maaf… saya lupa memberitahu. Hari ini saya memang libur. Saya memutuskan untuk memberikan waktu bagi diri saya sendiri untuk beristirahat, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat membuat saya gilak.

Tidak banyak yang saya lakukan hari ini. Berjalan-jalan, window shopping, berbincang-bincang dengan beberapa teman lama, yaa... sekedar mengisi waktu agar saya tetap berkegiatan saja. Saya bahkan meninggalkan si hitam yang setia di rumah, karena saya juga tidak ingin dipusingkan dengan kemacetan di jalan. Hanya satu niat saya saat melangkah keluar rumah: bersenang-senang. Dan memang itulah yang saya lakukan sampai langit beranjak senja, dan bahkan menghitam karena mendung yang tak tertahankan.

Menjelang malam, saya memutuskan untuk kembali pulang. Badan saya sudah lelah, dan mata pun mulai mengantuk. Lalu saya mencoba merebahkan kepenatan di jok belakang taksi yang saya tumpangi.

Di luar sudah gelap. Lampu berpijar-pijar. Dengan kemacetan jalan protokol yang biasa. Telinga saya hanya menangkap suara serak seorang pria dari radio panggil, yang meminta sebuah armadanya untuk menjemput tamu di sebuah alamat. Bahkan supir taksi di depan saya pun tampaknya sengaja membiarkan saya dengan keheningan itu. Sepi.

Dan entah kenapa, kepala saya kembali kepada perbincangan yang sempat terjadi dengan seorang teman tadi. Perjumpaan setelah sekian lama tak bertemu tampaknya menggugahnya untuk bercerita panjang-lebar tentang kisah kehidupannya. Tentang pekerjaan, tentang teman barunya, tentang pasangannya. Semua tentang kebahagiaan yang berbinar-binar kala ia mengisahkannya. Ia demikian mencintai hidupnya sekarang. Sebagaimana ia begitu mencintai pasangannya.

Berbagai pekerjaan rumah tangga dilakukannya, semua dengan senang hati. Ia menjalankan peran sebagai seorang istri dengan baik. Paling tidak, memang demikian yang saya tangkap. Juga dengan penantian atas kehadiran seorang gadis kecil yang dalam tiga bulan mendatang akan meramaikan keluarga mereka.

“What else will I ask for more, Vas?”

Iya, El... What else will you ask for more?

Pertanyaan yang tiba-tiba membuat saya membencinya setengah mati. Bukan karena saya memang tidak menyukainya. Saya hanya iri dengan apa yang dimilikinya sekarang. Sebuah kebahagiaan.

Kata itu yang terus terngiang di kepala saya, bahkan sampai saat ini. Saat saya sudah merebahkan diri di atas sofa ruang tengah. Saat saya menonton televisi. Saat sudah hampir tengah malam. Dan saat saya tiba-tiba merindukannya. Merindukan kebahagiaan. Merindukan saat di mana saya akan pulang kembali ke rumah bersama seseorang. Saat kami akan mampir di warung di pinggir jalan untuk membeli lauk makan malam. Saat menyuguhkan kopi baginya di pagi hari. Saat saya akan meletakkan sepasang kemeja dan celana panjang di atas tempat tidur untuk dikenakannya ke kantor.

Saat di mana bahkan saya belum sanggup membayangkan akan seperti apa. Namun saya sudah merindukannya setengah mati. Merindukan kapan kebahagiaan seperti El itu akan menjadi milik saya.

website page counter

ADA 2 KOMENTAR:

» Anonymous t-1:

There, there was a time I knew
That no matter come what may, love would prevail
And then inside the dreams I knew
Came the question lovers fear
Can true love fail
Then I would miss the childhood wish
And haven't I sung to you
Of the knight in armor bright
Faithful and true to you

Darling, after all
I will be the one to hold you in my arms
After all
I will be the one to hold you
I will be the one to hold you in my arms
In my arms


I know in my heart and mind
That no matter come what may, love will survive
And love, the author of space and time
Keeps the galaxies and each sparrow alive
And the love that heals the wound
After the war is through
Is the knight in armor bright
Faithful and true to you

July 31, 2006 11:44 PM  
» Anonymous elmogran:

postingan ini membuat gue teringat, kalo habis nonton video Anthony de Mello dimana dia mengutip kata-kata Budha:

'The root of sorrow is desire'


*ngelantur*

January 13, 2008 9:08 PM  

» Post a Comment

 

LINKS:

» Create a Link

« Kembali ke TERAS